Travel

ABANGAN SANTRI DAN PRIYAYI PDF

Clifford Geertz’ trichotomy of santri-priyayi-abangan. reemerges in Ahmad Najib Burhani, “Aksi Bela Islam: Konservatisme dan Fragmentasi Otoritas. Get this from a library! Abangan, santri, priyayi: dalam masyarakat Jawa. [Clifford Geertz; Aswab Mahasin; Bur Rasuanto]. the Javanese into three main cultural types; abangan, santri and priyayi. . dan, rangkang meunasah in Aceh and surau in Hinangkabau In pesan- tren the.

Author: Mimuro Ball
Country: Belize
Language: English (Spanish)
Genre: Marketing
Published (Last): 3 July 2011
Pages: 138
PDF File Size: 8.86 Mb
ePub File Size: 1.86 Mb
ISBN: 181-2-54714-512-4
Downloads: 97682
Price: Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader: Voodoole

Skip to main content. Log In Sign Up. Seorang peniliti dan antropolog asal Amerika Serikat, Clifford Geertz membuat sebuah penilitian yang akhirnya dibuat menjadi buku yang berjudul Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa.

Clifford Geertz melakukan penilitian di kota Mojokuto, Jawa Timur tentang tiga tipe budaya yang berada di kota tersebut. Penilitian ini dijalankan selama 6 tahun lamanya, baik di Indonesia maupun di Amerika Serikat. Geertz meniliti 3 golongan yang berada di Mojokuto yang mempengaruhi sistem keagamaan dan kebudayaan di kota tersebut, 3 golongan tersebut adalah Abangan, Santri, dan Priyayi. Pembagian ini lriyayi Geertz, merupakan pembagian yang dibuat oleh orang-orang Jawa sendiri Abangan, Santri, dan Priyayi walaupun masing-masing merupakan struktur sosial yang berlainan, tetapi masing-masing saling melengkapi satu sama lainnya dalam mewujudkan adanya sistem sosial Jawa yang berlaku umum di Mojokuto.

Walaupun demikian, nampaknya yang lebih menjadi perhatian Geertz adalah masalah perpecahan dalam sistem sosial orang Jawa yang ada di Mojokuto. Varian Agama Abangan Yang pertama adalah Abangan, bila mewakili sikap, menitikberatkan dab animisme sinkretisme Jawa yang menyeluruh, dan secara luas berhubungan dengan unsur-unsur petani di antara penduduk.

Istilah abangan oleh Clifford Geertz diterapkan pada kebudayaan orang desa, yaitu para petani yang kurang terpengaruh oleh pihak luar dibandingkan dengan golongan-golongan lain di antara penduduk. Abangan masih menerapkan pola tradisi jawa dalam kehidupan mereka. Salah satunya yaitu tradisi slametan. Tradisi slametan adalah tradisi yang dijalankan untuk memenuhi semua hajat orang sehubungan dengan suatu abangah yang ingin diperingati, ditebus, atau dikuduskan.

Kelahiran, perkawinan, sihir, kematian, pindah rumah, mimpi buruk, panen, ganti nama, membuka pabrik, sakit, dan lain-lain semuanya itu memerlukan slametan. Makna dari slametan adalah tak seorang pun merasa berbeda dari yang lain, tak ada seorang pun yang abanan rendah dari yang lain, dan tak ada seorang prlyayi punya keinginan untuk memencilkan diri dari orang lain.

Orang-orang abangan sendiri masih mempercayai hal-hal mistis yang mereka yakini berada di sekitar mereka.

Orang Abangan masih percaya dengan priyayo makhlus halus seperti memedi, lelembut, tuyul, demit, danyang dan lain-lain. Hal ini memberikan rangkaian imajinasi yang piktografi simbolis, pengalaman yang seperti teka-teki, dan dalam kerangka mana bahkan hal-hal yang ganjil nampaknya tak bisa dihindari.

Jadi bolehlah disimpulkan bahwa varian agama abangan mengacu kepada bahasa sehari-hari disebut tradisi rakyat yang pokok, tradisi kaum tani. Inti ritual-ritualnya terdiri dari slametan, atau perjamuan untuk lingkungan tetangga, yang diadakan dengan tujuang agar slamet, yakni satu keadaan psikologis tanpa gangguan-gangguan emosional.

Dengan satu kompleks kepercayaan-kepercayaan tentang roh dan praktek penyembuhan, varian agama abangan mencerminkan pemberian tekanan pada aspek-aspek animisme dari sinkretisme Jawa secara keseluruhan. Menurut Geertz, maka benarlah orang abangan menurut pengertian orang Jawa mengacu pada satu kategori sosial yang empiris, yakni mereka yang tidak melibatkan diri secara aktif dalam agama Islam, akan tetapi benar pula bahwa deskripsi Geertz mengenai soal sabtri agak menyesatkan, mungkin ddan asumsinya bahwa tradisi abangan adalah identik dengan tradisi rakyat folk tradition.

Varian Agama Santri Golongan kedua yang dibahas dalam buku ini adalah golongan santri. Menurut Geertz, santri dimanifestasikan dalam pelaksanaan yang cernat dan teratur, ritual-ritual pokok agama Islam, seperti abanagn salat lima kali sehari, salat Jumat, di masjid, berpuasa selama bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji. Ciri-ciri santri lebih dikenal sebagai tradisi Islam untuk mempermudah pandangan kita terhadap kaum santri. Varian agama santri diasosiasikan dengan pasar, yang merupakan salah satu dari ketiga inti sosial-kultural.

  GLEANINGS IN EXODUS PINK PDF

Kedua inti lainnya adalah desa dan pemerintahan birokrasi. Untuk profesi yang banyak dianut oleh kaum santri, di daerah perkotaan santri biasanya berprofesi sebagai pedagang atau tukang, terutama penjahit.

Sedangkan di desa, santri berprofesi sebagai petani, jadi tidak semua petani di desa adalah orang abangan, di sana terdapat pula petani-petani yang santri. Oleh karena keterlibatan secara aktif dalam agama Islam, kepercayaan-kepercayaannya, nilai-nilai dan normanya merupakan cciri khas santri, wajarlah untuk memperkirakan bahwa di kalangan penduduk Mojokuto, santri terdapat dalam setiap kategori sosial yang utama, golongan ningrat dan rakyat biasa, pedagang dan petani tua muda, yang tradisional dan yang modern, yang terpelajar dan yang tidak terpeleajar, seperti juga wajar untuk memperkirakan adanya orang abangan dalam setiap kategori itu.

Santri tidak harus didapati hidup berkelompok dalam satu lingkungan rukun tetangga, meskipun kelompok-kelompok rumah yang dihuni oleh pdiyayi santri mungkin saja ditemukan di pelbagai tempat di kota atau daerah pedalaman, seperti di masjid dan tempat tnggal para kiai.

Kelompok rumah-rumah di sekitar abanyan meliputi apa yang dikenal sebagai kauman dan kompleks tempat tinggal santri-santi sekitar rumah kiai yang disebut pesantren.

Untuk mengidentifikasikan seorang disebut sebagai santri memang agak sulit, semua tertgantung kepada pengertian orang itu lriyayi mengenai santri. Banyak pdiyayi menganggap santri adalah seorang yang taat kepada agama, seroang yang secara teratur dan dengan priyayu melakukan ritual-rital yang diwajibkan, seorang murid pesantren, seorang yang mempunyai pengetahuan sanntri isi Quran dan sebagainya.

Dengan demikian, maka meskipun secara relatif sudah jelas apa itu ciri- ciri tradisi agama santri, seringkali tidak terlalu jelas proyayi saja yang dianggap sebagai santri. Varian Agama Priyayi Yang terakhir adalah kaum priyayi, Dr.

Geertz berasumsi bahwa kaum priyayi adalah kaum yang menekankan aspek-aspek Priyayj dan diasosiasikan dengan unsur birokrasi. Golongan Priyayi adalah kaum elite yang sah, memanifestasikan satu tradisi agama yang khas yang disebut sebagai varian agama priyayi dari sistem keagamaan pada umumnya di Jawa. Dalam kaitannya dengan kedudukan kaum priyayi dalam struktur sosial di Mojokuto, Dr.

Geertz melukiskan mereka sebagai satu golongan pegawai birokrasi yang menurut tempat tinggal mereka merupakan penduduk kota. Di masa lampau, mereka dianggap merupakan bagian dari aristokrasi keraton. Istilah priyayi mengacu kepada orang-orang dari kelas sosial tertentu, yang menurut hukum merupakan kaum elite tradisional.

Ia mengacu kepada orang-orang yang menurut hukum dianggap berbeda dari rakyat biasa. Kaum priyayi dibedakan dari rakyat biasa karena memiliki gelar- gelar kehormatan yang terdiri dari pelbagai tingkat menurut hirarki hak dan kewajiban. Gelar-gelar tersebut abangaj dalam bentuk singkatan di depan nama orang yang bergelar itu.

Sebagai elite dalam masyarakat Jawa, kaum priyayi mempunyai lebih banyak kesempatan untuk memperoleh pengetahuan, tradisional atau modern, dibandingkan rakyat biasa. Dalam kepercayaan, priyayi mendapat bermacam macam kepercayaan agama dan bukan hanya satu tradisi agama yang merupakan varian dari sistem agama orang-orang Jawa pada umumnya.

Priyayi Santri adalah sebutan untuk priyayi yang secara aktif melibatkan diri dalam agama Islam. Priyaui mereka kepada agama dapat diungkapkan dalam mistik atau dengan jalan menekuni tulisan-tulisan tentang Islam. Kedua, Priyayi Abangan adalah sebutan untuk priyayi yang tidak begitu menghiraukan tentang Islam. Sebagian dari mereka malah sama sekali tidak memperdulikan soal agama.

Tetapi ada pula priyayi yang bukan orang tidak beragama. Mereka mungkin saja memeluk agama leluhur mereka yaitu agama Jawa. Jadi, menurut Geertz kepercayaan-kepercayaan agama, nilai-nilai dan nerma-norma priyayi pada dasarnya tidak berbeda dari kalangan yang bukan priyayi.

Tetapi dengan pengecualian selain hal-hal yang berkaitan dengan Islam, priyayi mampu mengungkapkan kepercayaan- kepercayaan dan nilai-nilai mereka secara lebih nyata dan dengan demikian memiliki bentuk tradisi agama yang lebih maju, lebih sophisticated. Sedangkan tradisi yang terdapat di kalangan rakyat biasa mempunyai bentuk yang lebih kasar.

  LEY DE RIESGOS DE TRABAJO 24557 PDF

Karena dalam pengertian sejarah lokal secara subyektif merupakan cerita aktivitas manusia di sebuah daerah tertentu. Dwn buku ini, menceritakan aktivitas keagamaan dan kebudayaan masyarakat di daerah Mojokuto, Jawa Timur.

Ruang lingkup masyarakat Mojokuto tersebut adalah kaum abangan, santri, dan priyayi. Dalam buku ini kita bisa melihat struktur-struktur sosial yang ada kota Mojokuto yaitu abangan, santri, dan priyayi.

Abangan, santri, priyayi : dalam masyarakat Jawa (eBook, ) []

Masyarakat Jawa di Mojokuto sebagai suatu sistem sosial, dengan kebudayaan Jawanya yang akulturatif dan agamanya yang sinkretik, yang terdiri atas tiga sub-kebudayaan Jawa yang masing-masing merupakan struktur sosial yang berlainan. Sementara, bila kita melihat buku ini dalam aspek penulisan sejarah, buku ini termasuk dalam aspek penulisan sejarah tematis.

Dalam aspek penulisan sejarah tematis, sejarah lokal ditulis dengan tema yang khusus dan khas. Buku ini menitik beratkan pada konsep religius, sosial, dan kebudayaan. Ketiga struktur sosial tersebut sangat berpengaruh terhadap masyarakat di Mojokuto, kita bisa melihat bagaimana ketiga struktur sosial tersebut melakukan aktivitas religinya yang masing-masing mempunyai ciri khas tersendiri.

Kaum abangan menitikberatkan segi-segi animisme sinkretisme Jawa yang menyeluruh. Meskipun pada perkembangannya, banyak kaum abangan yang mengakulturasi konsep Jawa di ajaran Islam contohnya adalah tradisi Grebeg Mulud, Grebeg Besar, dan lain sebagainya.

Sementara untuk kaum santri, menitik beratkan tentang pelaksanaan religiusitas agama Islam secara menyeluruh atau kafah. Mereka menjalani ibadah-ibadah yang ada pada Islam dengan benar dan sedikit mencampur adukan dengan kepercayaan lain bahkan tidak ada sama sekali. Sedangkan untuk kaum priyayi, mereka condong kepada kedudukan sosial, mereka dianggap sebagai golongan yang tinggi karena kebanyakan mereka adalah keturunan ningrat yang dihormati masyarakat Jawa.

Sedangkan dalam bentuk profesi, mereka diidentikan sebagai pegawai birokrasi dan orang kaya. Hal ini kita bisa lihat dari jenis pekerjaan yang dianut oleh 3 golongan tersebut.

Orang abangan identik sebagai petani, santri identik dengan pedagang, sedangkan priyayi adalah seorang keturunan keraton, orang-orang kaya, dan pegawai birokrasi. Orang priyayi lebih rekat dengan orang yang dihormati di Jawa, sedangkan orang abangan dan santri lebih tepatnya sebagai rakyat biasa. Sementara dalam pendekatannya, buku dari Geertz ini menggunakan pendekatan antropologi. Bisa dijelaskan bahwa mengapa harus menggunakan pendekatan antropologi dikarenakan buku ini menjelaskan tentang aspek-aspek budaya yang melatarbelakangi stratifikasi tersebut.

Lalu, kita bisa melihatnya bahwa selain aspek budaya, sangatlah kita perhatikan berdasarkan nilai religiuistas. Masing- masing golongan mempunyai keunikan tersendiri seperti orang abangan yang masih percaya dengan animisme dan melakukan kegiatan upacara untuk menghormati arwah nenek leluhur. Untuk orang santri sangat taat pada ajararan Islam dan menitik beratkan tentang pelaksanaan religiusitas agama Islam secara menyeluruh atau kafah.

Hal itu ditunjukan seperti salat 5 waktu, beribadah haji, berpuasa dan lain sebagainya. Sedangkan kaum priyayi menitik beratkan pada status orang priyayi di dalam masyarakat.

Abangan, santri, priyayi : dalam masyarakat Jawa

Contoh nyata adalah orang-orang priyayi adalah keturunan ningrat, pegawai birokrasi, dan orang-orang kaya dan terpandang. Dan dalam sisi religiuistas, orang priyayi mempunyai bermacam-macam kepercayaan agama, bisa masuk ke abangan atau ke santri.

Insiwi Febriary Setiasih, S. Remember me on this computer. Enter the email address you signed up with and we’ll email you a reset link. Click here to sign up. Help Center Find new research papers in: